POHON TERAKHIR….

September 21st, 2006

Dsc03753

POHON TERAKHIR…

Pernahkah anda semua membayangkan ribuan hektar hutan alam tropika dibabat kemudian tanahnya diratakan? Jika sulit membayangkan silahkan lihat foto disamping ini. Gambar tersebut menunjukkan sebuah proses yang didunia kehutanan disebut sebagai land clearing yang dilakukan sebuah perusahaan hutan tanaman industri di Riau.Kebetulan aku berkesempatan melintas disana. Jangan heran sepanjang mata memandang hanyalah bekas-bekas penghancuran ekosistem, tumpukan-tumpukan kulit kayu hasil pengupasan kayu-kayu yang ditebang, bercampur dengan terik mentari yang menyengat kulit. Memang lahan tersebut nantinya akan kembali ditanami. Tetapi bisakah penanaman monokultur dengan satu atau dua jenis tanaman menggantikan hutan alam dengan beratus jenis pohon dan makhluk hidup penghuninya? Kemanakah larinya kera-kera, gajah, burung-burung, bahkan semut dan pacet ketika deru mesin chainsaw, traktor, dan buldozer merobohkan pohon-pohon dan meratakan tanah tempat hidupnya?

Sekedar mengingatkan kembali, konon sampai tahun 2005 pemerintah telah menetapkan kawasan hutan seluas 126,8 juta hektar. Jumlah tersebut terdiri dari hutan konservasi (23,2 juta ha), hutan lindung ( 32,4 juta ha), hutan produksi terbatas ( 21,6 juta ha), hutan produksi (35,6 juta ha) dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 14 juta ha.Negeri ini juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Data pada tahun 2003 menyebutkan jumlah keanekaragaman hayati kita adalah mamalia 515 jenis (12% dari jumlah mamalia di dunia), reptilia 511 jenis (7,3% dari jenis reptilia dunia), burung 1.531 jenis ( 17% jenis burung dunia), amphibi 270 jenis, binatang tak bertulang 2.827 jenis dan tumbuhan 38.000 jenis. Woww bukannya fantastik angka-angka tersebut. Dan pasti semua hewan dan tumbuhan tersebut hampir semuanya berada dalam kawasan yang disebut hutan.

Tetapi, kita semua pasti tahu kalau hutan kita sudah tidak utuh lagi. Angka resmi pemerintah menyebutkan setiap tahun hutan kita berkurang seluas 2,8 juta hektar. Wah..wah…wah kalau dirata-rata berarti setiap hari hutan kita hilang (ditebang, terbakar, atau sebab lainnya) seluas 7671-an hektar!!. Jika ini dibiarkan tentu kita tinggal menanti ajal akibat dampak dari penggundulan hutan tersebut. Kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun saja sudah membuat banyak orang repot untuk keluar rumah, pesawat tidak bisa mendarat, sampai diprotes negeri tetangga. Belum berbagai bencana banjir dan longsor yang datang tanpa permisi mengakibatkan semakin banyak ratapan tangis pilu yang tidak terobati.

So, tentu menjadi tugas azasi kita semua sebagai khalifah di bumi ini untuk tetap menjaga keseimbangan alam. Setidaknya kita bisa mulai dari hal yang kecil: menanam sebuah pohon di pekarangan kita, tidak membeli produk-produk dari kayu yang tidak jelas asal usulnya,jangan pakai kertas yang bahan bakunya dari kayu-kayu hutan alam, ikut berpartisipasi dalam gerakan lingkungan hidup, menyumbang kelebihan rejeki untuk perbaikan hutan dan lingkungan, dan lain sebagainya. Mengharapkan orang lain melakukan pekerjaan ini, apalagi mengharapkan pemerintah cq. Departemen Kehutanan yang terbukti gagal melakukan pengurusan hutan adalah laksana pungguk merindukan bulan. Semoga kita tidak sempat melihat pohon terakhir hutan kita tumbang atau ditumbangkan.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind