Indonesia sebagai juara dunia penghancur hutan

May 14th, 2007

P3130074_1

Ujung-ujungnya masalah keshahihan data

Beberapa waktu yang lalu muncul berita yang cukup mengejutkan. Data badan dunia yang menangani pangan dan pertanian (Food and Agriculture Organization atau FAO) menyebutkan bahwa laju kerusakan hutan

Indonesia

dari tahun 2000 – 2005 tercepat dari 44 negara yang diamati. Angka 1,871 juta hektar per tahun kehancuran hutan Indonesia ( 2 % dari luas hutan yang tersisa atau sekitar 51 kilometer persegi per hari) sudah menjadikan Indonesia sebagai kandidat penerima Guinness World of Record sebagai Negara penghancur hutan tercepat pada tahun 2006.

Angka-angka ini tentu saja menjadikan semakin panjangnya daftar pro dan kontra di seputar keshahihan data dan informasi. Departemen Kehutanan langsung membantah data-data tersebut. Versi resmi pengampu kebijakan kehutanan ini menyebutkan bahwa laju kerusakan hutan per tahun periode tahun 2000 – 2006 mencapai 1,18 juta hektar. Sebuah angka yang masih fantastic tentunya. Kalau kita lihat kembali ke belakang, Departemen Kehutanan sendiri bahkan pernah memunculkan angka lebih dari 3 juta hektar hutan kita rusak setiap tahunnya. Penelitian World Bank pernah menyebutkan angka 2 jutaan hektar, dan WALHI juga pernah memaparkan data bahwa hutan kita yang rusak setiap tahun mencapai 2,7 juta hektar.

Daftar angka-angka tersebut tentu saja akan menjadi semakin panjang jika ditambahkan dengan sumber-sumber lain. Yang menjadi pertanyaan bagi pembaca awam tentu saja mana data yang benar? Bagaimana cara pihak-pihak tersebut mengukur? Jangan-jangan angka-angka tersebut hanya puncak gunung es saja. Kenyataan di lapangan akan jauh lebih besar lagi. Yang pasti sampai sekarang belum ada pengukuran menyeluruh di lapangan tentang data-data dasar luasan hutan negeri ini. Pengukuran lebih banyak didasarkan pada hasil penafsiran citra land sat tanpa didukung hasil inventarisasi yang valid dari lapangan.

Kita kesampingkan dulu data laju kerusakan hutan. Jika kita bertanya seberapa tersisa luas hutan Indonesia, maka jawabannya pasti jika berbagai macam data. Pengalaman sebuah lembaga swadaya masyarakat yang sedang menyusun buku laporan keadaan hutan Indonesia dapat dijadikan pelajaran. Ternyata sangat sulit sekali mencari data dan informasi kondisi dan luasan hutan Indonesia yang up to date. Padahal dari sisi kelembagaan Dephut mempunyai badan planologi yang memang tugasnya mengurus penataan dan pengaturan hutan, termasuk memastikan keshahihan data dan informasi dasar kehutanan. Sayangnya kelembagaan ini belum berjalan optimal meskipun telah didukung sumberdaya manusia dan pastinya pendanaan yang besar.

Bagaimanapun ketersediaan data dan informasi yang valid dan up to date akan menjadi dasar bagi program-program pembangunan kehutanan selanjutnya. Data dan informasi yang tepat tentu saja akan menjadi mata untuk melihat dan mengetahui arah yang benar. Tentu tidak ada yang tidak mungkin untuk mendapatkan data-data tersebut. Memang dibutuhkan solidaritas semua yang menyebut dirinya Rimbawan untuk bersama-sama mencari solusi bagi perbaikan pembangunan hutan kita. Inventarisasi hutan nasional berdasarkan data dan informasi langsung dari lapangan menjadi kebutuhan mendesak. Ribuan mahasiswa dan sarjana baru kehutanan dari puluhan Fakultas Kehutanan ditambah dengan pegawai-pegawai Departemen Kehutanan dapat bersama-sama melakukan pekerjaan yang dari sisi teknis tidak terlalu sukar ini. Tinggal dibutuhkan beberapa orang leader yang mampu mendorong hal ini. Jika kerja sederhana tetapi luas cakupannya ini bisa dilakukan maka berbagai sorotan dan tudingan negatif tentang hancurnya hutan Indonesia perlahan-lahan bisa kita tepis. Tidak perlu menepis dan membantah dengan angka-angka tandingan tetapi dengan kerja bersama untuk merehabilitasi hutan, mengelolanya, dan menegakkan hukum dan aturan main yang ada dengan melibatkan para pihak yang langsung bergantung pada hutan, dapat menjadi pilihan strategi yang layak diterapkan. @yan




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind