Srikandhi dan Ekalaya

September 10th, 2007

Srikandi dan Ekalaya

Pada buku ketiga komik wayang Mahabharata yang dilukis RA Kosasih anda akan menemukan dua buah chapter yang  menarik. Srikandi dan Ekalaya palastra itulah judul chapter tersebut. Chapter ini dikatakan menarik karena seolah-olah merupakan sisipan dalam mainstream bagian Pandawa diasingkan, kemudian Pandawa Sengsara. Dua cerita ini memang  menarik dan melawan arus pakem cerita Mahabharata yang berkembang di

Indonesia

. Tengoklah sekilas cerita Srikandhi. Jika dalam versi pewayangan Jawa, Srikandhi adalah seorang prajurit wanita yang menjadi istri Harjuna dan kelak ketika perang Bharatayuda dapat membunuh Bisma, atau dalam versi India dimana Srikandhi digambarkan seperti waria, maka dalam buku ini yang mengklaim mengambil versi aslinya, Srikandi diceritakan pada awalnya memang seorang perempuan atau putri raja Pancala yang mempunyai kemampuan olah kanuragan yang tinggi. Dalam keseharian penampilannya memang menyerupai laki-laki, sehingga pada saat bertemu dengan putri raja Darsana, sang putri pun langsung jatuh hati dan mengutus ramandanya untuk meminang Srikandi. Dalam perjalanannya kemudian Srikandi ingin menjadi laki-laki sejati  sehingga harus bertukar kelamin dengan raksasa stuna,raksasa yang sudah mencapai derajat dekat dengan dewa, dengan syarat dalam waktu sebulan masing-masing harus bertukar kelamin lagi.

Akhirnya Srikandi dapat menikah dengan putri raja Darsana dan hidup bahagia. Tak terasa waktu sebulan pun telah habis. Sementara itu di hutan, Stuna yang kini menjadi perempuan dipergoki rajanya yang kemudian memarahinya karena telah bertukar jenis kelamin. Stuna berargumen bahwa dia lebih merasa senang menjadi perempuan karena kalau menjadi lelaki hanya bisa saling membunuh saja. Akhirnya Stuna dikutuk oleh sang raja tetap menjadi perempuan dan tidak akan bisa kembali lagi menjadi laki-laki. Srikandhi ketika kemudian bertemu dengan stuna tentu saja tidak bisa kembali menjadi perempuan. Bagi Srikandhi kondisi ini justru yang diharapkan karena dia baru saja membangun rumah tangga dengan Dewi Hirawati, putri raja Darsana tersebut.

Kembali ke cerita Ekalaya Palastra,kisahnya  dimulai dengan Ekalaya yang menjadi raja Nisaba meminta kepada istrinya Dewi Anggraeni untuk berangkat ke Hastina guna memberi kenang-kenangan kepada Resi Dorna yang dianggap sebagai gurunya. Dewi Anggraeni yang penasaran kenapa tidak suaminya sendiri yang berangkat kemudian mendapat cerita masa lalu hubungan Ekalaya dengan Dorna. Ekalaya yang pada waktu itu merupakan putra mahkota negeri Nisaba  ingin mempunyai ilmu kesaktian dalam memanah, yaitu ilmu Danuwenda, yang hanya bisa diajarkan oleh resi Dorna dari Hastina. Diam-diam Ekalaya berangkat ke Hastina untuk menemui dan memohon menjadi murid Dorna. Dorna menolak permohonan Ekalaya karena telah bersumpah hanya akan menjadi guru bagi anak-anak Hastina (Pandawa dan Kurawa).

Dengan perasaan kecewa Ekalaya mohon diri, tetapi tidak langsung pulang ke negerinya melainkan berhenti di tengah hutan. Disitu dia mengukir patung Dorna dan memujanya, menganggap seolah-olah Dorna adalah guru memanahnya. Setiap hari dia belajar sendiri ilmu memanah dengan seolah-olah diajari oleh Dorna melalui patungnya tersebut. Akhirnya kemampuan memanahnya meningkat dan dapat menguasai ilmu Danuwenda. Pada saat Harjuna dan teman-temannya berburu di hutan tersebut, mereka mendapati salah satu anjingnya mati dipanah dalam satu kali bidik terdapat 10 anak panah. Merasa penasaran, Harjuna mencari tahu siapa yang telah memanah anjing tersebut, dan mendapati Ekalaya yang sedang bersemedi disamping patung Dorna. Harjuna menanyakan siapa yang mengajari Ekalaya memanah dan dijawab bahwa yang mengajari adalah Resi Dorna seperti terlihat pada patungnya. Harjuna dan teman-temannya kecewa dan merasa dikhianati oleh Dorna, karena Dorna telah bersumpah hanya mengajar anak-anak Hastina.

Dorna yang tidak merasa mempunyai murid lain selain anak-anak Hastina kemudian mendatangi Ekalaya dan terkejut sekaligus marah begitu tahu kalau Ekalaya sudah dapat menguasai ilmu Danuwenda dan membuat patung dirinya. Ekalaya memohon agar dirinya dapat diterima sebagai murid. Dorna setuju dengan syarat Ekalaya mau memotong kedua ibu jarinya dan menyerahkan pada Dorna. Tanpa pikir panjang Ekalaya memenuhi syarat tersebut. Setelah kedua ibu jarinya dipotong, Dorna justru menjelek-jelekkan Ekalaya dan menganggap sebagai murid paling dungu, karena tanpa ibu jari apalah jadinya seorang pemanah. Dorna juga tidak mau untuk mengajari Ekalaya ilmu kesaktian apapun. Ekalaya yang merasa ditipu Dorna hanya pasrah dan menganggap minimal dia diakui sebagai murid Dorna. Kemudian dia pulang ke negerinya sambil membawa patung gurunya itu.

Sampai disini, Dewi Anggraeni merasa marah kepada Dorna dan tidak mau memenuhi permintaan suaminya. Karena diyakinkan oleh Ekalaya, maka akhirnya Anggraeni disertai pengawal berangkat menuju Hastina untuk menyerahkan kenang-kenangan kepada Dorna. Di rimba Kamiaka yang sudah dekat negeri Hastina, rombongan dicegat oleh gerombolan raksasa. Semua pengawal di bunuh, harta benda yang tadinya akan diserahkan kepada Dorna pun dirampas. Anggraeni dapat melarikan diri dan menemui seorang ksatria yang sedang bertapa di dalam gua. Tanpa pikir panjang dan lupa sopan santun dia langsung menubruk satria tersebut dan merayunya minta tolong dari kejaran para raksasa. Satria tersebut, yang ternyata Harjuna, hilang konsentrasi bertapanya karena sentuhan anggraeni. Harjuna berjanji mengalahkan raksasa-raksasa tersebut tetapi meminta imbalan. Sebelum menyebutkan apa imbalannya raksasa2 tersebut sudah berdatangan dan kemudian semua dapat dikalahkan oleh Harjuna.

Setelah keadaan tenang, sambil meminta maaf karena telah berlaku kurang sopan sehingga membatalkan semedi Harjuna, Anggraeni bercerita kalau dia adalah istri Prabu Ekalaya. Harjuna tentu saja terkejut, karena imbalan yang dia minta adalah ingin mengawini Anggraeni. Anggraeni tentu saja tidak mau, tetapi Harjuna yang sudah lupa diri terus merayu dan memaksa serta berusaha memperkosa Anggraeni. Anggraeni melarikan diri dan nekat menjatuhkan diri ke dalam jurang. Sebelum jatuh ke tanah, dia diselamatkan oleh ibunya (Dewi Peri). Dewi Peri marah dan mengancam kepada Harjuna, kemudian membawa kembali Anggraeni kepada suaminya, Ekalaya. Harjuna yang tersadar segera pulang ke Indraprasta dan dengan sangat menyesal menceritakan kejadian yang dialaminya kepada saudara-saudaranya. Semua saudaranya sepakat kalau Harjuna harus berani bertanggungjawab jika Ekalaya tidak terima dan mereka tidak akan turut campur.

Sementara itu, Ekalaya tentu saja sangat marah dan segera berangkat ke Indraprasta untuk membuat perhitungan dengan Harjuna. Akhirnya kedua ksatria tersebut mengadu ilmu kesaktian.Ekalaya, meskipun kedua ibu jarinya telah dipotong ternyata masih sakti karena mempunyai cincin ampal. Segala senjata Harjuna tidak ada yang mempan. Akhirnya Harjuna pun dapat dikalahkan dan dibunuh oleh Ekalaya.

Pandawa tentu saja sangat sedih. Bima bahkan siap menuntut balas akan menghancurkan negeri Nisaba. Saat itu datanglah Kresna. Dia yang juga titisan Dewa Wisnu tentu saja mengetahui masa depan, dimana sebentar lagi akan terjadi perang besar Bharatayuda. Jika Harjuna tidak ada maka kekuatan Pandawa bisa jadi akan kalah. Dengan kesaktian bunga wijayakusuma Kresna pun menghidupkan kembali Harjuna. Harjuna yang telah hidup kembali merasa sangat malu dan tidak mau hidup selama Ekalaya masih hidup. Akhirnya Kresna yang lagi-lagi berdalih untuk kepentingan yang lebih besar memberitahu kelemahan Ekalaya, yaitu selama cincin ampal masih ada di jari Ekalaya maka dia tidak akan bisa dilukai. Kresna juga mengusulkan cara curang untuk memperdayakan Ekalaya.

Kresna dan Harjuna kemudian berangkat ke perkemahan Ekalaya. Dengan ilmu halimunan (menghilangkan diri) mereka memasuki tempat semedi Ekalaya yang didalamnya terdapat patung Dorna. Pada saat yang sama Ekalaya sedang berbincang dengan Anggraeni, dia merasa menyesal karena telah membunuh Harjuna yang merupakan murid kesayangan Dorna juga. Untuk menenangkan diri Ekalaya bermaksud bersemedi di dekat patung Dorna. Didalamnya tentu saja sudah menunggu Kresna dan Harjuna dalam posisi menghilang. Ekalaya di depan patung gurunya menyatakan penyesalannya. Kresna kemudian menirukan suara Dorna. Ekalaya tentu terkejut dan merasa kalau Dorna ada di ruangan itu melalui patungnya. Kresna yang menirukan suara Dorna kemudian menyatakan dapat memahami tindakan Ekalaya asal dia mau menyerahkan cincin ampal-nya. Tanpa pikir panjang Ekalaya melepas cincinnya dan meletakkan di depan patung Dorna. Pada saat itulah Harjuna kemudian menusukkan pisau ke tubuh Ekalaya dan membunuhnya…Anggraeni yang mendengar jeritan suaminya kemudian bergegas ke tempat tersebut dan menjumpai suaminya terkapar bersimbah darah dalam posisi seperti habis bunuh diri. Tanpa pikir panjang juga Anggraeni pun segera mengambil pisau yang tergeletak tersebut dan menusukkan ke tubuhnya sendiri. Keduanya palastra, mati, meninggal dunia.

Sukma Ekalaya yang tahunya diperdaya oleh Dorna terus berkelana dan kelak dalam perang Bharatayuda menitis pada Drestajumena yang berhasil membunuh Dorna…

Menarik bukan? Tragis atau biasa saja ? Membaca cerita tersebut terbersit sejumlah hikmah dan pelajaran, yang ini tentu bisa berbeda tergantung persepsi masing-masing kita. Pertama setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan kita seringkali justru menjadi kelemahan kita. Kedua segala sesuatu pasti ada pembalasannya. Ini sesuai dengan hukum kekekalan massa, sebab-akibat, dan aksi-reaksi. Ketiga tidak ada manusia yang sempurna, orang baik bisa saja menjadi khilaf dan jahat baik disengaja maupun tidak disengaja. Keempat jangan menyerahkan totalitas kepercayaan kita kepada seseorang, meskipun orang itu guru kita yang sangat kita hormati.Kelima kadangkala kebaikan akan kalah oleh kejahatan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik. Keenam kepentingan yang lebih besar harus didahulukan daripada kepentingan yang lebih kecil dan ketujuh menjaga kehormatan diri, komitmen dan kesetiaan tetap menjadi faktor yang penting dan utama dalam berumah tangga, dan berhubungan dengan orang lain. @yan