Tamansari

April 21st, 2008

Sabtu, 19 April kemarin aku menyempatkan diri mampir ke Tamansari. Siang menjelang sore sepulang dari Wonosari tiba-tiba terlintas ingin mampir Masjid Soko Tunggal, Tamansari sekaligus melihat-lihat lukisan batik (batik painting) yang cukup banyak dibuat masyarakat sekitar Tamansari.

Memasuki masjid ini perasaanku menerawang terkenang bertahun-tahun yang lalu saat masih kuliah dan sempat beberapa kali main, sholat, bahkan menginap di masjid ini, karena saat itu ada saudara temanku yang menjadi salah satu takmir masjid ini. Bangunan dan suasana masjid hampir tidak banyak berubah. Di ruang utamanya masih berdiri kokoh soko tunggal , sebuah tiang penyangga bangunan masjid yang terletak di tengah-tengah,persis dibawah kubah, yang terbuat dari kayu jati utuh dan diukir dengan ornamen yang indah. Setelah lebih dari sepuluh tahun tidak berkunjung ke masjid ini, kesan yang kutangkap : “ ternyata masjidnya tidak terlalu besar ya?” begitu pikirku dalam hati. Kunjunganku ke masjid ini berakhir setelah aku mengikuti sholat ashar berjamaah. Ada yang berbeda rasa di hati mengunjungi salah satu tempat yang sedikit banyak pernah mengisi hari-hariku ketika masih mencari jati diri dan kedewasaan.

Melihat-lihat lukisan batik adalah tujuanku kemudian. Aku diantarkan ke sebuah rumah yang juga gallery tepat di belakang Tamansari. Seorang perempuan tua sedang membuat batik di depan gallery itu. Dengan cermat dan fokus serta hanya sedikit mempedulikan suasana ramai disekitarnya, Ibu ini memainkan cantingnya, menggores dan menggambar motif batik yang indah . Aku hanya sekilas berpikir, pantas saja batik tulis asli, seperti yang sedang dibuat Ibu ini berharga mahal, membuatnya butuh ketelitian, ketekunan, kesabaran dan pasti daya seni yang mumpuni.

Di dalam gallery berbagai motif lukisan batik terpajang. Ada digantungkan dan ada juga yang diletakkan pada dinding gallery. Berbagai motif dan aliran seni lukis terdapat disini, mulai yang tradisional sampai modern, ekspresionis sampai naturalis juga terpajang tergantung sense of art dan aliran seni yang diusung para pelukisnya. Setelah melihat-lihat akhirnya aku memutuskan membeli 2 (dua) buah lukisan batik berukuran 50 cm x 50 cm dan 30 cm x 30 cm. Sebuah lukisan pemandangan alam, dengan gunung, pepohonan, serta beberapa burung yang bertengger di pohon terlihat mewah dan elegan, dengan nuansa warna biru dan hijau serta dihiasi dengan benang emas. Satu lagi sebuah lukisan bunga berwarna kuning keemasan aku pilih untuk menjadi pasangan lukisan itu. Di gallery ini lukisan-lukisan dijual dengan harga yang cukup mahal. Yang harus dilakukan tentu menawar harganya. Dan syukur-syukur bias menawar dengan bahasa Jawa maka pasti kita akan dapat diskon yang cukup banyak. Sebagai contoh lukisan yang harganya Rp 200 ribuan setelah ditawar bisa menjadi Rp 110-an.

Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku sempat mampir ke pengrajin wayang kulit di seputaran Tamansari juga. Pemanduku promosi “ kalau ingin dapat wayang kulit paling baik se-Indonesia ya disini tempatnya!”. Karena penasaran maka aku coba masuk dan lihat-lihat. Di dinding gallery memang terpajang sertifikat sebagai juara 1 tingkat nasional dalam pembuatan wayang kulit. Wayang yang dibuatnya pun sangat halus, indah, dan teliti. “ wah jurinya nggak keliru kalau memenangkan Bapak ini sebagai juara nasional membuat wayang”begitu pikirku. Wayang-wayang ini dibuat dari kulit kerbau. Salah satu alat untuk membuatnya juga dari tanduk kerbau, yang dibentuk menjadi seperti palu. Begitu aku Tanya harganya - meskipun aku sudah menduga harganya pasti mahal- wah, ternyata mahal betul je…sebuah wayang Kresna ukuran standar dijual Rp 600 ribuan, yang ukuran setengahnya Rp 300 ribuan, dan wayang-wayang kecil berpasangan serta dibingkai dijual dengan harga Rp 260 ribuan. Jika niat ingin membeli maka lagi-lagi harus bisa memainkan jurus menawar yang jitu. So, jika berkunjung ke Jogja silahkan mencoba jalan-jalan di Tamansari dan sekitarnya. Happy travelling guys.

Nyoblos

April 18th, 2008

Seumur-umur baru 3 (dua) kali aku menggunakan hak pilihku
dalam pemilu, diluar pemilu mahasiswa atau OSIS. Pertama ketika pemilihan umum jaman orde baru awal
tahun 1990-an dahulu, dan kedua ketika pemilihan ketua RW di komplekku, dan
ketiga ketika pemilihan gubernur Jawa Barat kemarin. Seingatku waktu pertama kali ikut pemilu partai beringin kuning
masih sangat mendominasi pentas perpolitikan nasional. Di Jawa Tengah, provinsi
tempat aku mencoblos bahkan gubernurnya mencanangkan program kuningisasi, semua
dibuat kuning. Pagar-pagar rumah dan kantor harus di cat kuning, pohon-pohon
pinggir jalan di cat kuning, semua acara-acara resmi harus bernuansa warna
kuning, sampai-sampai kalau langit pun bisa di cat kuning pasti akan diganti
menjadi berwarna kuning langit, tidak lagi biru langit.

 

Nah waktu itu aku
baru setahun kuliah di Jogja dan disuruh pulang kampung untuk nyoblos. Bapakku
yang menjadi ketua panitia pemilihan di kampungku. Ya sudah untuk menghormati
Bapakku yang cukup ditokohkan di kampung aku pun ikut nyoblos. Tapi waktu itu
aku sengaja tidak nyoblos warna kuning tapi memilih warna hijau. Singkat cerita
begitu selesai coblosan, ketika pulang ke rumah dan ketemu Bapak langsung
dibilang ” kamu tadi nggak nyoblos kuning ya?” dengan santainya tak jawab aja ”
kok tahu Pak?”…

 

Nyoblos yang
kedua bagiku juga tidak terlalu berkesan karena memang sekedar menghormati para
tetangga komplek. Lagian calon yang dicoblos pun tetangga-tetangga komplek yang
notabene kenal semua. Jadi ya dipilih yang menurutku lebih mampu aja.

 

Nyoblos yang
ketiga ini yang lagi hangat-hangatnya. Suaranya pun masih dihitung KPU meskipun
hasil quick count 5 (lima) lembaga survai memenangkan calon gubernur nomer 3.  Sedari awal seperti pemilu-pemilu sebelumnya
aku ingin memilih untuk tidak memilih. Tapi ibunya anak-anakku yang sudah
terpengaruh tim sukses door to door-nya
calon nomer 3 memaksaku untuk ikut mencoblos. ”Pokoknya harus ikut nyoblos!!!
Dan harus pilih nomer 3!!!” teriak istriku ketika aku ngeyel nggak mau
berangkat ke tps. ” Awas kalau nggak mau nyoblos, Ayah nggak boleh nyoblos
aku!!!” begitulah nada ancaman yang terdengar di hatiku. Wah gawat juga nih…daripada
nggak dibukain pintu kamar ya udahlah mengalah ikut berpartisipasi
nyoblos…Tapi untungnya juga yang dipilih menang di komplekku, bahkan di Jabar
ini, jadi ya nggak terlalu nyesel juga. Ada benarnya juga analisis Fadjroel
Rahman di Kompas hari ini, kalau kemenangan pasangan nomer 3 itu karena banyak
dipilih oleh kaum muda dan golput. Salah satu buktinya ya aku ini, masih muda,
selama ini golput, eh bisa juga dipaksa untuk ikut milih…

 

Ada satu cerita
lagi yang menurutku membuat pasangan ini menang. Dua hari setelah pemilu
pembantuku dengan lugunya cerita ke istriku : ” Bu, waktu kampanye calon nomer
3 datang ke kampung dan ngasih uang! ” . ” masa sih teh”, istriku yang
pendukung berat calon ini seakan nggak percaya. ” iya, tapi ngasih uangnya ke
masjid..”. Istriku yang penasaran makin mengejar: ” oo begitu ya…terus
calon-calon yang lain pada ngasih nggak teh? ” . ” semua ngasih bu” jawab
teteh. ” calon nomer 1 dan 2 pada ngasih ke masyarakat, lewat Pak RT”. ” Berapa
pada ngasihnya Teh? ” Istriku makin semangat ngejar info ini. ” calon nomer 3
ngasih ke masjid cuma Rp 250 ribu Bu. Calon nomer 1 dan 2 pada ngasih ke Pak RT
besar Bu, masing-masing Rp 5 juta”. ” Wah, pada dapat banyak dong teh
masyarakat kampung teteh” kata istriku sambil tersenyum, ” tapi kok kata teteh
yang menang calon nomer 3 juga? ”. ” iya Bu, habis masyarakat pada marah, uang
yang dikasih calon nomer 1 dan 2 nggak dibagi sama Pak RT, jadi ya pada milih
yang nomer 3…”. Ups istriku Cuma bisa bilang ” oooo begitu ya
J