Nyoblos

April 18th, 2008

Seumur-umur baru 3 (dua) kali aku menggunakan hak pilihku
dalam pemilu, diluar pemilu mahasiswa atau OSIS. Pertama ketika pemilihan umum jaman orde baru awal
tahun 1990-an dahulu, dan kedua ketika pemilihan ketua RW di komplekku, dan
ketiga ketika pemilihan gubernur Jawa Barat kemarin. Seingatku waktu pertama kali ikut pemilu partai beringin kuning
masih sangat mendominasi pentas perpolitikan nasional. Di Jawa Tengah, provinsi
tempat aku mencoblos bahkan gubernurnya mencanangkan program kuningisasi, semua
dibuat kuning. Pagar-pagar rumah dan kantor harus di cat kuning, pohon-pohon
pinggir jalan di cat kuning, semua acara-acara resmi harus bernuansa warna
kuning, sampai-sampai kalau langit pun bisa di cat kuning pasti akan diganti
menjadi berwarna kuning langit, tidak lagi biru langit.

 

Nah waktu itu aku
baru setahun kuliah di Jogja dan disuruh pulang kampung untuk nyoblos. Bapakku
yang menjadi ketua panitia pemilihan di kampungku. Ya sudah untuk menghormati
Bapakku yang cukup ditokohkan di kampung aku pun ikut nyoblos. Tapi waktu itu
aku sengaja tidak nyoblos warna kuning tapi memilih warna hijau. Singkat cerita
begitu selesai coblosan, ketika pulang ke rumah dan ketemu Bapak langsung
dibilang ” kamu tadi nggak nyoblos kuning ya?” dengan santainya tak jawab aja ”
kok tahu Pak?”…

 

Nyoblos yang
kedua bagiku juga tidak terlalu berkesan karena memang sekedar menghormati para
tetangga komplek. Lagian calon yang dicoblos pun tetangga-tetangga komplek yang
notabene kenal semua. Jadi ya dipilih yang menurutku lebih mampu aja.

 

Nyoblos yang
ketiga ini yang lagi hangat-hangatnya. Suaranya pun masih dihitung KPU meskipun
hasil quick count 5 (lima) lembaga survai memenangkan calon gubernur nomer 3.  Sedari awal seperti pemilu-pemilu sebelumnya
aku ingin memilih untuk tidak memilih. Tapi ibunya anak-anakku yang sudah
terpengaruh tim sukses door to door-nya
calon nomer 3 memaksaku untuk ikut mencoblos. ”Pokoknya harus ikut nyoblos!!!
Dan harus pilih nomer 3!!!” teriak istriku ketika aku ngeyel nggak mau
berangkat ke tps. ” Awas kalau nggak mau nyoblos, Ayah nggak boleh nyoblos
aku!!!” begitulah nada ancaman yang terdengar di hatiku. Wah gawat juga nih…daripada
nggak dibukain pintu kamar ya udahlah mengalah ikut berpartisipasi
nyoblos…Tapi untungnya juga yang dipilih menang di komplekku, bahkan di Jabar
ini, jadi ya nggak terlalu nyesel juga. Ada benarnya juga analisis Fadjroel
Rahman di Kompas hari ini, kalau kemenangan pasangan nomer 3 itu karena banyak
dipilih oleh kaum muda dan golput. Salah satu buktinya ya aku ini, masih muda,
selama ini golput, eh bisa juga dipaksa untuk ikut milih…

 

Ada satu cerita
lagi yang menurutku membuat pasangan ini menang. Dua hari setelah pemilu
pembantuku dengan lugunya cerita ke istriku : ” Bu, waktu kampanye calon nomer
3 datang ke kampung dan ngasih uang! ” . ” masa sih teh”, istriku yang
pendukung berat calon ini seakan nggak percaya. ” iya, tapi ngasih uangnya ke
masjid..”. Istriku yang penasaran makin mengejar: ” oo begitu ya…terus
calon-calon yang lain pada ngasih nggak teh? ” . ” semua ngasih bu” jawab
teteh. ” calon nomer 1 dan 2 pada ngasih ke masyarakat, lewat Pak RT”. ” Berapa
pada ngasihnya Teh? ” Istriku makin semangat ngejar info ini. ” calon nomer 3
ngasih ke masjid cuma Rp 250 ribu Bu. Calon nomer 1 dan 2 pada ngasih ke Pak RT
besar Bu, masing-masing Rp 5 juta”. ” Wah, pada dapat banyak dong teh
masyarakat kampung teteh” kata istriku sambil tersenyum, ” tapi kok kata teteh
yang menang calon nomer 3 juga? ”. ” iya Bu, habis masyarakat pada marah, uang
yang dikasih calon nomer 1 dan 2 nggak dibagi sama Pak RT, jadi ya pada milih
yang nomer 3…”. Ups istriku Cuma bisa bilang ” oooo begitu ya
J




One Response to “Nyoblos”

  1.   Aula Sakinah on April 20, 2008 8:51 pm

    :) :) :) hehehehe… kasian dech! jadi golput pun memang pilihan, tetua..

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind