Tamansari
Sabtu, 19 April kemarin aku menyempatkan diri mampir ke Tamansari. Siang menjelang sore sepulang dari Wonosari tiba-tiba terlintas ingin mampir Masjid Soko Tunggal, Tamansari sekaligus melihat-lihat lukisan batik (batik painting) yang cukup banyak dibuat masyarakat sekitar Tamansari.
Memasuki masjid ini perasaanku menerawang terkenang bertahun-tahun yang lalu saat masih kuliah dan sempat beberapa kali main, sholat, bahkan menginap di masjid ini, karena saat itu ada saudara temanku yang menjadi salah satu takmir masjid ini. Bangunan dan suasana masjid hampir tidak banyak berubah. Di ruang utamanya masih berdiri kokoh soko tunggal , sebuah tiang penyangga bangunan masjid yang terletak di tengah-tengah,persis dibawah kubah, yang terbuat dari kayu jati utuh dan diukir dengan ornamen yang indah. Setelah lebih dari sepuluh tahun tidak berkunjung ke masjid ini, kesan yang kutangkap : “ ternyata masjidnya tidak terlalu besar ya?” begitu pikirku dalam hati. Kunjunganku ke masjid ini berakhir setelah aku mengikuti sholat ashar berjamaah. Ada yang berbeda rasa di hati mengunjungi salah satu tempat yang sedikit banyak pernah mengisi hari-hariku ketika masih mencari jati diri dan kedewasaan.
Melihat-lihat lukisan batik adalah tujuanku kemudian. Aku diantarkan ke sebuah rumah yang juga gallery tepat di belakang Tamansari. Seorang perempuan tua sedang membuat batik di depan gallery itu. Dengan cermat dan fokus serta hanya sedikit mempedulikan suasana ramai disekitarnya, Ibu ini memainkan cantingnya, menggores dan menggambar motif batik yang indah . Aku hanya sekilas berpikir, pantas saja batik tulis asli, seperti yang sedang dibuat Ibu ini berharga mahal, membuatnya butuh ketelitian, ketekunan, kesabaran dan pasti daya seni yang mumpuni.
Di dalam gallery berbagai motif lukisan batik terpajang. Ada digantungkan dan ada juga yang diletakkan pada dinding gallery. Berbagai motif dan aliran seni lukis terdapat disini, mulai yang tradisional sampai modern, ekspresionis sampai naturalis juga terpajang tergantung sense of art dan aliran seni yang diusung para pelukisnya. Setelah melihat-lihat akhirnya aku memutuskan membeli 2 (dua) buah lukisan batik berukuran 50 cm x 50 cm dan 30 cm x 30 cm. Sebuah lukisan pemandangan alam, dengan gunung, pepohonan, serta beberapa burung yang bertengger di pohon terlihat mewah dan elegan, dengan nuansa warna biru dan hijau serta dihiasi dengan benang emas. Satu lagi sebuah lukisan bunga berwarna kuning keemasan aku pilih untuk menjadi pasangan lukisan itu. Di gallery ini lukisan-lukisan dijual dengan harga yang cukup mahal. Yang harus dilakukan tentu menawar harganya. Dan syukur-syukur bias menawar dengan bahasa Jawa maka pasti kita akan dapat diskon yang cukup banyak. Sebagai contoh lukisan yang harganya Rp 200 ribuan setelah ditawar bisa menjadi Rp 110-an.
Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku sempat mampir ke pengrajin wayang kulit di seputaran Tamansari juga. Pemanduku promosi “ kalau ingin dapat wayang kulit paling baik se-Indonesia ya disini tempatnya!”. Karena penasaran maka aku coba masuk dan lihat-lihat. Di dinding gallery memang terpajang sertifikat sebagai juara 1 tingkat nasional dalam pembuatan wayang kulit. Wayang yang dibuatnya pun sangat halus, indah, dan teliti. “ wah jurinya nggak keliru kalau memenangkan Bapak ini sebagai juara nasional membuat wayang”begitu pikirku. Wayang-wayang ini dibuat dari kulit kerbau. Salah satu alat untuk membuatnya juga dari tanduk kerbau, yang dibentuk menjadi seperti palu. Begitu aku Tanya harganya - meskipun aku sudah menduga harganya pasti mahal- wah, ternyata mahal betul je…sebuah wayang Kresna ukuran standar dijual Rp 600 ribuan, yang ukuran setengahnya Rp 300 ribuan, dan wayang-wayang kecil berpasangan serta dibingkai dijual dengan harga Rp 260 ribuan. Jika niat ingin membeli maka lagi-lagi harus bisa memainkan jurus menawar yang jitu. So, jika berkunjung ke Jogja silahkan mencoba jalan-jalan di Tamansari dan sekitarnya. Happy travelling guys.
Uncategorized |Leave a Reply