KEDUNG KERIS
Tanggal 13 dan 14
Mei kemarin, kembali aku dapat mengunjungi Kedung Keris. Kedung Keris merupakan
sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul,
Yogyakarta. Dari Yogyakarta, desa ini dapat ditempuh selama kurang lebih 45
menit - 1 jam perjalanan dengan mobil atau motor. Pertama aku berkunjung ke
desa ini pada akhir tahun 2005 yang lalu ketika desa ini menjadi tempat belajar
lapangan dari pelatihan penilai lapangan sertifikasi PHBML. Kemarin itu aku
kembali berkunjung ke desa ini untuk mengikuti workshop dengan para pengurus
koperasi masyarakat dan kelompok tani yang sedang menyiapkan diri untuk
mengikuti penilaian penilikan sertifikasi ekolabel.
Di desa ini
terdapat sebuah kelompok masyarakat yang telah berhasil membuktikan bahwa
mereka mampu mengelola hutan rakyatnya dengan baik. Paguyuban Kelompok Tani
Hutan Rakyat Margo Mulyo adalah nama kelompok tersebut. Paguyuban yang
mengelola hutan rakyat seluas 184, 25 hektar ini termasuk yang mendapat
sertifikat ekolabel skema LEI yang dinilai oleh PT TuV Internasional Indonesia.
Dari harfiahnya
Kedung Keris berarti, kedung merupakan tempat di sungai yang dalam dan keris
adalah senjata khas masyarakat Jawa. Menurut cerita dahulu kala konon terjadi
perebutan warisan senjata sakti berupa sebilah keris. Karena kedua kakak
beradik tidak ada yang mau mengalah maka diadakanlah sayembara, yaitu keris
tersebut dilemparkan ke dalam kedung dan kedua bersaudara tersebut di minta
menyelam dan mengambilnya. Siapa yang dapat mengambil maka dialah yang menang.
Itulah kenapa sejak saat ini daerah tersebut disebut sebagai Kedung Keris.
Saya tentu tidak
akan menceritakan detail kisah tersebut, tetapi lebih pada kenapa desa ini
menarik untuk diceritakan. Sejak beberapa tahun yang lalu desa ini menjadi
dampingan dari Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) UGM, sebuah lembaga kajian di
lingkungan Fakultas Kehutanan UGM yang mendorong terwujudnya pengelolaan hutan
rakyat secara lestari. Sebagai dampingan dari sebuah lembaga penelitian kampus,
maka wajar kalau sudah cukup banyak berbagai kajian serta penelitian yang
dilakukan di desa ini, baik yang dilakukan PKHR sendiri maupun para mahasiswa
fahutan UGM yang melakukan penelitian skripsi. Kenapa desa ini menarik untuk
diteliti dan menjadi dampingan sebuah lembaga? Jika kita sempat berkunjung
kesana maka dengan cepat kita akan dapat menjawab, bahwa kultur masyarakatnya
memang unik. Kemauan dan kemampuan masyarakat untuk menjaga dan menumbuhkan
tanah-tanah pekarangan, tegalan, dan kebun dengan ditanami tanaman keras yang
didominasi jati, mahoni, dan akasis memang patut diacungi jempol.
Tanah-tanah yang
tadinya tandus telah berhasil dihijaukan. Hampir sudah tidak ada lagi tempat
yang kosong. Bahkan banyak kebun yang tadinya ditanami tanaman semusim kemudian
diubah menjadi tanaman keras, khususnya jati. Masyarakat pun telah menikmati
hasilnya. Kayu-kayu jati sudah mulai dijual ketika ada kebutuhan yang cukup
mendesak, seperti ketika memasuki tahun ajaran baru atau hajatan, baik
pernikahan, sunatan, dan lain-lain. Tebang butuh, itulah istilah yang mulai
akrab ditelinga kita. Sebuah istilah yang menggambarkan terjadinya penebangan
kayu yang didasari adanya kebutuhan hidup. Tidak salah kalau pada bulan Agustus
2007 kemarin bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia,
kelompok Margo Mulyo ditetapkan sebagai juara pertama lomba penghijauan tingkat
nasional. Berbagai pengakuan tersebut tentu saja menjadi bukti bahwa apa yang
selama ini diperjuangkan mayarakat untuk dapat menghijaukan kembali tanah dan
hutannya tidaklah sia-sia. Disamping manfaat ekonomi dari hasil menjual
kayunya, saat ini masyarakat juga sudah mendapatkan manfaat ekologi antara lain
dengan munculnya sumber-sumber mata air baru, air sungai yang terus mengalir
sepanjang tahun, dan juga iklim mikro yang menjadi lebih sejuk.
Tidak bisa
dipungkiri, bagi masyarakat menanam pohon merupakan sebuah bentuk investasi dan
atau tabungan untuk masa depan. Manfaat-manfaat yang lain dengan sendirinya
akan mengikuti. Sebuah pohon akan
ditebang jika sumber-sumber penghasil ekonomi yang lain sudah tidak ada lagi,
misalnya sudah tidak punya ternak dan sudah tidak ada hasil tanaman semusim.
Ketika BBM
kembali naik seperti sekarang ini, yang kemudian berujung pada naiknya berbagai harga kebutuhan pokok
dan transportasi, aku hanya bisa merenung semoga masyarakat Kedung Keris masih
dapat bertahan untuk tidak segera menebang hutan-hutan rakyatnya. Jika pun
harus menebang semoga masih tetap ada kearifan dan juga kebersamaan untuk
saling membantu sesama. Kedung Keris mungkin masih akan bisa bertahan untuk
mengelola hutannya secara baik dan lestari. Akan tetapi bagaimana dengan
desa-desa yang lain? Nampaknya percepatan kehancuran ekosistem sudah semakin
mendekati kita dengan semakin tidak terjangkaunya harga-harga maka apapun yang
dapat dijadikan sarana bertahan hidup pasti akan dilakukan. Salahkah jika
masyarakat menebang pohon-pohonnya sendiri atau bahkan kembali menjarah
pohon-pohon di areal hutan negara?
Perjalanan | Comment (0)
Ketela diatas batu
Di puncak bukit di Kalibiru, Hargowilis ada yang menarik perhatianku. Diatas tanah bebatuan atau malah dapat disebut batu bertanah bisa tumbuh, baik tanaman keras seperti jati dan tanaman semusim seperti ketela pohon. Kalau diperhatikan lebih teliti lagi ternyata – seperti foto disamping ini- memang tanah-tanah tersebut seperti sengaja diletakkan diatas batu kemudian baru ditanam tanaman, baik tanaman keras maupun semusim.
Aku sempat bertanya pada Pak Kamijan, Kepala Dukuh Kalibiru, kenapa stek-stek ketela pohon ini ditanam miring bahkan sebagian ada yang hampir tergeletak begitu saja. Aku pikir itu karena tipisnya solum tanah, sehingga ketika tanah terkena hujan maka stek-stek ketela pohon yang baru ditanam akan menjadi miring. Pak Kamijan ternyata menjawab lain, ” inilah bedanya menanam ketela di daerah rendah dengan di daerah tinggi seperti disini Pak” Pak Kamijan mulai bercerita. ” Kalau di daerah rendah biasanya ketela ditanam berdiri. Hasil ketelanya akan banyak meski ketelanya tidak panjang-panjang”. ” Tetapi di daerah yang tinggi seperti di Kalibiru ini, ketela pohon biasanya ditanam dengan cara stek ditancapkan dengan posisi miring. Biasanya hasil ketelanya akan panjang-panjang meskipun jumlahnya lebih sedikit pada tiap pohonnya”. ” Bahkan saya pernah tanam ketela dengan posisi dibalik Pak” kata Pak Kamijan. ” Terus bisa ndak Pak? Hasilnya bagaimana?” karena penasaran aku bertanya padanya. ” Bisa tumbuh kok Pak, tapi hasilnya nggak baik”
Nah, contoh bertanam ketela pohon seperti aku temui di Kalibiru tersebut bisa dikatakan sebagai ”ilmu titen”. Sebuah pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pengalaman dan uji coba lapangan. Diakui atau tidak pengetahuan modern banyak didasarkan pada praktek-praktek pengetahuan tradisional seperti ini.
Uncategorized | Comment (1)KALIBIRU
Tanggal 9 Mei kemarin akhirnya aku dapat kembali
mengunjungi Kalibiru, sebuah dusun di desa Hargowilis, Kecamatan Kokap,Kabupaten Kulon Progo. Dusun ini menjadi salah satu desa
dampingan Yayasan Damar, tempatku bekerja dulu. Untuk menuju Kalibiru,kita
harus melalui Wates,ibu kota Kabupaten Kulon Progo, kemudian naik ke Waduk Sermo. Kalibiru merupakan salah
satu dusun yang merupakan catchment area waduk. Kita harus naik mendaki
jalan-jalan bukit dengan kemiringan yang cukup curam. Di puncak bukit itulah
letak kalibiru, sebuah dusun yang asri dan mempunyai landscap yang mempesona.
Jika kita naik lebih atas lagi, di bukit yang sekarang menjadi areal hutan
kemasyarakatan, kita akan melihat pemandangan yang sangat indah. Di sebelah
barat dan utara terpampang deretan pegunungan Menoreh dengan puncak-puncak
bukit yang menghijau. Dibawahnya terlihat pemandangan
Waduk Sermo, hutan-hutan rakyat dan sedikit sawah dan kebun. Sementara di
sebelah selatan, terhampar kota Wates dan bahkan kita bisa melihat laut selatan
dengan jelas.
Empat tahun yang
lalu hutan negara yang menjadi HKm masih terlihat gersang dan gundul. Di puncak
bukit masih kita jumpai petani tua yang menanam tanaman semusim dan hanya
terlihat sedikit naungan tanaman keras. Setiap tahun masyarakat mencoba
melakukan penanaman hutan, baik dengan swadaya sendiri maupun bantuan dari
berbagai pihak. Tetapi hasilnya selalu nihil. Hutan terlanjur gundul, solum
tanah terlanjur tergerus, sementara sumber air untuk membuat tanaman-tanaman
tersebut hidup masih susah dicari.
Menghadapi
kondisi begini, tidak kurang usaha yang telah dilakukan para petani Kalibiru.
Mereka sampai melakukan infus pada tanaman-tanaman yang ditanam. Setiap tanaman
diberi bumbung-bumbung bambu yang dilubangi kecil dibawahnya, kemudian bumbung
itu diisi dengan air. Pak Kamijan, Pak Parlan, dan para petani lain ketika
ditanya kenapa bersusah payah menginfus tanaman, mereka hanya menjawab bahwa
mereka ingin hutan dapat tumbuh hijau kembali. Karena jika ada bencana alam
akibat hutan yang rusak maka mereka sendiri yang pertama akan merasakannya.
Infus tanaman dengan bumbung kayu, bisa dikatakan sebuah temuan yang kreatif
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tradisional.
Empat tahun
setelah itu hasilnya sudah kelihatan. Tanaman-tanaman sudah mulai tumbuh menghijau.
Masyarakat Kalibiru sudah mulai memikirkan bagaimana ketika tanaman keras yang
mereka tanam sudah makin besar dan naungannya menutupi tanah. Pada saat itu
budidaya tanaman semusim sudah tidak akan optimal lagi dan mesti diganti dengan
tanaman bawah tegakan, seperti empon-empon. Mereka sudah mulai melirik usaha
jasa lingkungan dan ekowisata. Pelan tapi pasti mereka pasti akan menuai hasil
jerih payahnya selama ini.
Perjalanan | Comment (1)