KALIBIRU
Tanggal 9 Mei kemarin akhirnya aku dapat kembali
mengunjungi Kalibiru, sebuah dusun di desa Hargowilis, Kecamatan Kokap,Kabupaten Kulon Progo. Dusun ini menjadi salah satu desa
dampingan Yayasan Damar, tempatku bekerja dulu. Untuk menuju Kalibiru,kita
harus melalui Wates,ibu kota Kabupaten Kulon Progo, kemudian naik ke Waduk Sermo. Kalibiru merupakan salah
satu dusun yang merupakan catchment area waduk. Kita harus naik mendaki
jalan-jalan bukit dengan kemiringan yang cukup curam. Di puncak bukit itulah
letak kalibiru, sebuah dusun yang asri dan mempunyai landscap yang mempesona.
Jika kita naik lebih atas lagi, di bukit yang sekarang menjadi areal hutan
kemasyarakatan, kita akan melihat pemandangan yang sangat indah. Di sebelah
barat dan utara terpampang deretan pegunungan Menoreh dengan puncak-puncak
bukit yang menghijau. Dibawahnya terlihat pemandangan
Waduk Sermo, hutan-hutan rakyat dan sedikit sawah dan kebun. Sementara di
sebelah selatan, terhampar kota Wates dan bahkan kita bisa melihat laut selatan
dengan jelas.
Empat tahun yang
lalu hutan negara yang menjadi HKm masih terlihat gersang dan gundul. Di puncak
bukit masih kita jumpai petani tua yang menanam tanaman semusim dan hanya
terlihat sedikit naungan tanaman keras. Setiap tahun masyarakat mencoba
melakukan penanaman hutan, baik dengan swadaya sendiri maupun bantuan dari
berbagai pihak. Tetapi hasilnya selalu nihil. Hutan terlanjur gundul, solum
tanah terlanjur tergerus, sementara sumber air untuk membuat tanaman-tanaman
tersebut hidup masih susah dicari.
Menghadapi
kondisi begini, tidak kurang usaha yang telah dilakukan para petani Kalibiru.
Mereka sampai melakukan infus pada tanaman-tanaman yang ditanam. Setiap tanaman
diberi bumbung-bumbung bambu yang dilubangi kecil dibawahnya, kemudian bumbung
itu diisi dengan air. Pak Kamijan, Pak Parlan, dan para petani lain ketika
ditanya kenapa bersusah payah menginfus tanaman, mereka hanya menjawab bahwa
mereka ingin hutan dapat tumbuh hijau kembali. Karena jika ada bencana alam
akibat hutan yang rusak maka mereka sendiri yang pertama akan merasakannya.
Infus tanaman dengan bumbung kayu, bisa dikatakan sebuah temuan yang kreatif
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tradisional.
Empat tahun
setelah itu hasilnya sudah kelihatan. Tanaman-tanaman sudah mulai tumbuh menghijau.
Masyarakat Kalibiru sudah mulai memikirkan bagaimana ketika tanaman keras yang
mereka tanam sudah makin besar dan naungannya menutupi tanah. Pada saat itu
budidaya tanaman semusim sudah tidak akan optimal lagi dan mesti diganti dengan
tanaman bawah tegakan, seperti empon-empon. Mereka sudah mulai melirik usaha
jasa lingkungan dan ekowisata. Pelan tapi pasti mereka pasti akan menuai hasil
jerih payahnya selama ini.
Perjalanan |
One Response to “KALIBIRU”
Leave a Reply
Makasih ya u udh buat Blog untuk kalibiru, coz itu tempat kelahiran Ibu ku dan masih banyak keluarga - keluarga ku disana.