Ketela diatas batu
Di puncak bukit di Kalibiru, Hargowilis ada yang menarik perhatianku. Diatas tanah bebatuan atau malah dapat disebut batu bertanah bisa tumbuh, baik tanaman keras seperti jati dan tanaman semusim seperti ketela pohon. Kalau diperhatikan lebih teliti lagi ternyata – seperti foto disamping ini- memang tanah-tanah tersebut seperti sengaja diletakkan diatas batu kemudian baru ditanam tanaman, baik tanaman keras maupun semusim.
Aku sempat bertanya pada Pak Kamijan, Kepala Dukuh Kalibiru, kenapa stek-stek ketela pohon ini ditanam miring bahkan sebagian ada yang hampir tergeletak begitu saja. Aku pikir itu karena tipisnya solum tanah, sehingga ketika tanah terkena hujan maka stek-stek ketela pohon yang baru ditanam akan menjadi miring. Pak Kamijan ternyata menjawab lain, ” inilah bedanya menanam ketela di daerah rendah dengan di daerah tinggi seperti disini Pak” Pak Kamijan mulai bercerita. ” Kalau di daerah rendah biasanya ketela ditanam berdiri. Hasil ketelanya akan banyak meski ketelanya tidak panjang-panjang”. ” Tetapi di daerah yang tinggi seperti di Kalibiru ini, ketela pohon biasanya ditanam dengan cara stek ditancapkan dengan posisi miring. Biasanya hasil ketelanya akan panjang-panjang meskipun jumlahnya lebih sedikit pada tiap pohonnya”. ” Bahkan saya pernah tanam ketela dengan posisi dibalik Pak” kata Pak Kamijan. ” Terus bisa ndak Pak? Hasilnya bagaimana?” karena penasaran aku bertanya padanya. ” Bisa tumbuh kok Pak, tapi hasilnya nggak baik”
Nah, contoh bertanam ketela pohon seperti aku temui di Kalibiru tersebut bisa dikatakan sebagai ”ilmu titen”. Sebuah pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pengalaman dan uji coba lapangan. Diakui atau tidak pengetahuan modern banyak didasarkan pada praktek-praktek pengetahuan tradisional seperti ini.
Uncategorized |One Response to “Ketela diatas batu”
Leave a Reply
Menarik moral story nya pak..
Pengetahuan modern biasanya dikembangkan di laboratorium dengan SOP tertentu dan untuk mengukur parameter-parameter yang khas. Kadang setelah di terapkan di lapangan membutuhkan penyesuaian-penyesuaian lagi. Sedangkan pengetahuan tradisional langsung trial and error di lapangan dan meskipun jarang terdokumentasi, namun lebih bersifat adaptif. Persamaanya: nitine (observation), niroke (replication), ngerteni (understanding), lan nerangke (explanation)….;-)